PEMIKIRAN HADITS MUHAMMAD MUHAMMAD ABU ZAHWU



Oleh: Syihab. M
(Makalah ini adalah asli tulisan penulis sendiri. Jika ingin meng-copy baik sebagian maupun seluruh tulisan ini harap cantumkan link blog ini. Terima Kasih!)


A. Pendahuluan


Wacana hadits yang berkembang dikalangan intelektual muslim diakui belum menemui titik finalnya. Berbagai problem yang melingkupi hadits itu sendiri masih menjadi perbincangan hangat diantara mereka, mulai dari sejarah penulisan hadits, periwayatan hadits (kritik sanad), klarifikasi isi hadits (kritik matan) hingga pembukuan dan penyebaran hadits beserta ilmunya. Di sisi lain para orientalis-pun tak mau kalah. Telah lama mereka mengincar dan berlomba-lomba mengeluarkan pendapatnya mengenai otentisitas hadits yang sebelumya diteliti melalui berbagai pendekatan dan metodologi. 

Perbenturan pendapat baik antara intelektual muslim dengan intelektual muslim lainnya maupun antara orientalis yang menyebabkan kajian tersebut semakin panjang. Antara satu dengan yang lainnya, saling mengkritik dan beradu argument yang tentunya dengan asumsi masing-masing. 

Adalah Abu Zahwu seorang intelektual muslim yang mencoba memperjuangkan kembali dan meneruskan laju estafet para pakar hadits dalam usahanya mempertahankan otentisitas hadis dan menyanggah pendapat yang menyimpang yang berusaha mengaburkan dan merusak islam melalui penelitian hadits. Usahanya tersebut dituangkan dalam coretan penanya yang kemudian berbentuk sebuah kitab yang berjudul al Hadits wa al Muhadditsun. 



B. Abu Zahwu dan Kitab al Hadits wa al Muhadditsun 



1. Sketsa biografi Abu Zahwu 


Dr. Muhammad Abu Zahwu[1] memiliki nama lengkap Syihabuddin Muhammad Abu Zahwu, kuniyahnya Abu Muhammad al Azhari. Beliau adalah alumni al Azhar Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadits. Lulus dari Universitas tersebut dangan nilai mumtaz. Beliau berguru pada beberapa Syaikh diantaranya adalah ayah beliau sendiri, Marwan Syahin, Jaudah al Mahdi, Abdullah al Syadzali, Fathiy el Zoughbiy, Abdul Mahdi Abdul Qodir, Syaikh al Albani, Syaikh Muhammad Shalih dan Doktor Muhammad ‘Ammarah[2]. Gelar doktor yang disandang beliau diraih pada tahun 1946[3]. Ia merupakan salah seorang tenaga pengajar pada fakultas ushul ad-din di Universitas al-Azhar.[4]. Beliau wafat pada tahun 1403 H[5]


2. Kitab al Hadits wa al Muhadditsun 

Kitab al Hadits wa al Muhadditsun merupakan karya magnum opus yang di-sumbangkan oleh Abu Zahwu bagi khasanah dunia islam. Kitab ini disusun dengan ketelitian serta kecermatannya dalam meninjau kembali perkembangan hadits dari masa ke masa serta menanggapi pendapat-pendapat yang beredar mengenai hadits baik dari kalangan intelektual muslim maupun para orientalis. 

Di dalam Kitab Manhaj al Naqd fi ‘Ulum al Hadits karya Nur al Din Itr dalam rincian penjelasannya mengenai proses gradual lahirnya ilmu hadits, Kitab Al Hadits wa Al Muhadditsun karya Abu Zahwu ini ditulis pada masa kebangkitan dari kejumudan ilmu hadits yang diperkirakan dimulai sejak awal abad ke 14 H[6] hingga sekarang (karya lain yang muncul pada masa tersebut adalah kitab al Sunnah wa Makanatuha fi al Tasyri’al Islami karya Mushtafa al Shiba’i). Pada masa ini aktivitas keilmuan tampaknya banyak difokuskan untuk membahas pendapat-pendapat yang sudah banyak berkembang di Barat. Di dalam Kitab ini dijelaskan bagaimana para ulama sangat tekun dalam mencurahkan hidupnya untuk mengabdi kepada sunnah. Penjelasan beliau di dalam kitabnya tersebut disertai dangan hasil penelitian atas hadits pada masa-masa awal hingga masa pembukuan hadits. Kitab ini juga dilengkapi dengan sanggahan terhadap isu dan anggapan yang berkenaan dengan hadits[7]

Abu Zahwu membagi kitabnya ke dalam beberapa tahap perkembangan hadits menjadi tujuh tahapan: 

· Pertama, perkembangan hadits pada masa Rasulullah SAW 

· Kedua, perkembangan hadits pada masa khilafah al rasyidah 

· Ketiga, perkembangan hadits pasca khilafah al rasyidah sampai penghujung abad pertama hijriyah 

· Keempat, perkembangan hadits pada abad kedua hijriyah 

· Kelima, perkembangan hadits pada abad ketiga hijriyah 

· Keenam, perkembangan hadits sejak abad keempat sampai tahun 656 Hijriyah 

· Ketujuh, perkembangan hadits sejak tahun 656 Hijriyah sampai masa sekarang. 


C. Pandangan Abu Zahwu mengenai Hadits Nabi 

1. Seputar penulisan hadits Nabi 

Larangan Rasulullah saw kepada para sahabat untuk menulis hadits merupakan salah satu yang menjadi persoalan para ulama dalam masalah penulisan hingga pembukuan hadits. Apakah larangan tersebut bersifat umum atau tidak. 

Dalam hal ini Abu Zahwu memaparkan pendapatnya mengenai persoalan tersebut. Larangan penulisan hadits tersebut bukan merupakan larangan beliau secara mutlak ditujukan kepada seluruh sahabat dan untuk sepanjang masa. Akan tetapi, larangan tersebut bersifat kontekstual. Para jumhur sepakat jika larangan tersebut bersifat umum (karena masih banyak para sahabat yan belum pandai menulis) sedangkan perintah penulisannya bersifat khusus (bagi sahabat yang pandai dalam hal tulis menulis). 

a) Para Sahabat yang pandai tulis-menulis 

Ketika datangnya islam, dikenal beberapa sahabat di Makkah yang telah pandai menulis. Diketahui sedikitnya 19 orang laki-laki dari sahabat yang pandai menulis diantaranya: Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Thalhah, Yazid bin Abi Sufyan, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Sufyan bin Harb, Abu Hudzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah, Hathib bin ‘Amru, Abu Salmah bin Abdul Asad al Makhzumi[8]

Adapun dari kalangan sahabat perempuan diantaranya Syifa’ binti ‘Abdullah al ‘Adawiyah, istri Nabi saw Hafshah binti Umar, Ummu Kaltsum binti Uqbah, Karimah binti Miqdad dan lain-lain[9]

Sedangkan para sahabat yang berada di Madinah –ketika datangnya Nabi saw-, antara Bani Aus dan Bani Khazraj dikenal hanya sedikit yang pandai tulis menulis. Sedangkan sebagian orang Yahudi telah belajar menulis. Mereka belajar pada al Shibyan di Madinah pada masa-masa awal. Dan ketika Islam datang maka penulis dari Bani Aus dan Khazraj semakin bertambah. Diantara mereka adalah, Sa’ad bin ‘Ubadah, al Mundzir bin ‘Amru, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit yang dikenal mampu menulis Arab dan Ibrani[10]

b) Alasan dan Hikmah Larangan Penulisan 

Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwasanya larangan penulisan hadits bersifat umum sedangkan perintah penulisannya bersifat khusus. Adapun izin penulisan hadits yang disberikan kepada sebagian sahabat tidak diwajibkan sebagaimana halnya al Qur’an[11]

Pada mulanya Nabi tidak membolehkan menulis sabda-sabdanya, karena khawatir akan terjadi percampuran dengan ayat-ayat al Qur’an yang tertulis. Umat islam belum terbiasa dengan gaya Kitab suci yang fasih dan mengagumkan. Setelah beberapa lama, barulah mereka menjadi akrab dengan al Qur’an dan kebuta-hurufan semakin berkurang sehingga nabi memandang perlu untuk mengizinkan penulisan teks-teks di luar al Qur’an juga[12]

Abu Zahwu mempertahankan teori yang disebutkan di atas dengan mengatakan bahwa melalui ini kearifan Nabi menjadi jelas. Jika ummat Islam sudah melakukan penulisan atas segala sesuatu sejak dini, maka mereka tentu akan sangat mempercayai catatan-catatan tertulis. Dan itu terjadi ketika seni menulis belum lazim dipraktikkan. Pada saat yang sama, mereka tentu tidak akan dapt mengembangkan daya ingat yang luar biasa yang sudah menjadi watak mereka[13]

Dan adapun izin penulisan hadits -untuk mengkompromikan antara larangan dan pembolehan- dilakukan sewaktu al Qur’an tidak diturunkan sehingga kekhawatiran akan bercampurnya al Qur’an dengan perkataan (baca: hadits) beliau tidak terjadi[14]

c) Kodifikasi Hadits Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz 

Adapun problem peng-kodifikasi-an hadits pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz beliau memberikan pendapatnya bahwa pada saat itu Umar bin Abdul Aziz termotivasi oleh beberapa hal: 1) tidak ada lagi kekhawatiran terhadap bercampurnya al Qur’an dan hadits, Karena pada waktu itu al Qur’an sudah dibukukan dan sudah tersebar luas sejak masa sahabat; 2) berkenaan munculnya hadits-hadits palsu; 3) ulama yang hafal hadits semakin berkurang jumlahnya, sedang mereka yang masih ada berpencar tempatnya; 4) banyaknya orang non-Arab (‘ajam) yang masuk islam dan mereka belum begitu kuat hafalannya[15]. Adapun surat perintah untuk mengkodifikasikan hadits dari khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal adalah: 

انظر ما كان من حديث رسول الله صلى الله عليه و سلم فاكتبه فإني خفنت دروس العلم وذهاب العلماء ولا تقبل إلا حديث النبي صلى الله عليه و سلم ولتفشوا العلم ولتجلسوا حتى يعلم من لا يعلم فإن العلم لا يهلك حتى يكون سرا[16]

“lihatlah dan periksalah apa yang Anda peroleh dari hadis Rasullah saw karena sesungguhnya aku takut akan hilangnya ilmu dan perginya (wafatnya) para ulama. Janganlah Anda menerima hadis kecuali yang datang dari Rasulullah saw, sebarkanlah ilmu pengetahuan dan adakan majelis ta’lim sehingga dapat memperoleh ilmu pengetahuan orang yang tidak tahu. Sesungguhnya ilmu pengetahuan itu tidak rusak (hilang) kecuali jika dia menjadi barang rahasia”. 

Dari surat perintah beliau yang yang dikirimkan kepada beberapa orang diantaranya adalah Abu Bakar bin Hazm (gubernur Madinah) dan Syihab al Zuhri pada tahun 66 H, secara tersurat memang dapat ditarik beberapa hal yang menjadi kegelisahan Umar bin Abdul Aziz pada saat itu. Beberapa pesan tersurat dari instruksi tersebut antara lain karena maraknya hadits-hadits palsu yang tersebar. Hal ini bisa dilihat dari perkataan beliau yang merupakan perintah untuk betul-betul memperhatikan setiap hadits yang diterima dari seseorang. Karena pada saat itu beberapa golongan –diantaranya golongan Kawarij dan Rafidhah- yang membuat hadits semau mereka. Di sisi lain berkurangnya para ulama pada saat yang menjadi lahan informasi dan kroscek mengenai otentisitas hadits-hadits nabi. Dan untuk membekali orang-orang yang berasal dari berbagai daerah non-Arab yang masuk Islam (muallaf) dengan ilmu pengetahuan khususnya mengenai al Qur’an dan hadits, maka beliau memerintahkan untuk membuat majelis ilmu agar mereka tidak tersesat dengan pemahaman sendiri dan dari orang-orang yang bermaksud mengaburkan islam. 

d) Penulisan Hadits mulai tahun 656 hingga sekarang (fase ketujuh) 

Adapun secara umum, menurut penelitian Muhammad Abu Zahwu dalam kitabnya al-Hadits Wa al-Muhaditsun menyebutkan bahwa pada fase ini yakni fase ketujuh dari perkembangan Hadis, faktor politiklah yang memiliki peran yang mendominan bagi para ulama sebagai latar belakang dalam menyusun sebuah kitab dan corak dari kitab tersebut. Menurut beliau, setelah khilafah ‘Abasiyah berhasil diruntuhkan oleh tentara Mongol pada tahun 656 H, kemudian disusul dengan penghancuran kota Baghdad yang dilakukan oleh Hulaku (salah satu pemimpin Mongol) selama 40 hari, rihlah ilmiyah para ulama ke berbagai daerah Islam menjadi terhenti dan terputus. Keadaan seperti ini, pada akhirnya menjadikan riwayah syafahiyah pun ikut terputus. Sehingga, para ulama pada fase ini hanya menekuni dan mengkaji kitab-kitab ulama terdahulu dengan cara mengkumpulkan, meringkas, mensyarahi, mentakhrij hadis-hadisnya dan lain sebagainya, seperti Al Bushairi (840 H) yang menyusun kitab zawa’id, As Sakhawi (902 H) yang menyusun kitab al Maqasid al Hasanah, As Suyuti (911 H) yang menyusun kitab Jam’ul Jawami’ dan lain sebagainya[17]

2. Sunnah menurut Abu Zahwu 

Sunnah menurut Abu Zahwu adalah jalan yang baik atau buruk[18]. Hal ini berdasarkan hadits beliau yang berbunyi: 

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا[19]

Abu Zahwu menjelaskan mengenai makna sunnah menurut kalangan ahli ushul dan ahli hadits. Dikalangan Muhadditsin,- mereka mengikuti pendapat para jumhur- sunnah diartikan sebagai: 

أقوال النبي صلى الله عليه وسلم وأفعله وتقريرته وصفاته الخلقية والخلقية وسيره ومغازيه وبعض أخباره قبل البعثة. 

Menurut mereka, bahwasanya termasuk sunnah Nabi adalah segala perbuatan Nabi saw sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Seperti ber-tahannuts di gua Hira, dan sifat yang baik dari beliau adalah jujur dan amanah. 

Adapun menurut pendapat Ushuluyyin, sunnah adalah segala perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi. Sebagian dari mereka juga mendefinisikan makna sunnah dengan perbuatan para sahabat termasuk khulafa’ al rasyidin, baik perbuatan tersebut dalam rangka mengamalkan isi atau kandungan al Qur'an dan Hadis Nabi saw ataupun bukan. Hal tersebut adalah seperti perbuatan Sahabat dalam mengumpulkan Al-Qur'an menjadi satu Mushhaf. Pendapat ini disandarkan pada hadits Nabi saw yang berbunyi عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ مِنْ بَعْدِي. Sunnah yang bermakna seperti ini menurut mereka muradif dengan makna hadits[20]

Lanjut beliau di dalam tulisannya yang ia paparkan bahwa Ulama Islam menjelaskan bahwa wahyu itu terbagi dua: pertama, wahyu yang terbaca (al wahy al matluww) yaitu al-Qur’an, dan kedua, wahyu yang tidak terbaca (al wahy ghayr al matluww) yaitu sunnah. Sunnah digolongkan ke dalam bentuk “wahyu” disebabkan dua ayat al Qur’an: pertama, “wa maa yanthiqu ‘ani’l-hawaa in huwa illaa wahyun yuuhaa”, dan kedua, “man yuthi’i al-rasûla faqad athâ‘a Allâah”[21]

3. Keikutsertaan Wanita dalam Majelis dan Penyebaran Hadits Nabi 

Sebagaimana diketahui bahwa pengajaran yang dilakukan nabi kepada para sahabat-nya tidak dilakukan dalam sebuah madrasah/sekolah formal. Akan tetapi beliau memberikan pelajaran kepada para sahabat di masjid sebagai pusat pembelajaran ummat islam pada saat itu. 

Majelis yang diadakan nabi pada saat itu tidak dibatasi bagi siapa saja yang ingin mengikutinya (hal ini merupakan salah satu tujuan dakwah beliau dalam menyebarkan islam bagi siapa saja). Begitu pula dalam hal yang berbau patriarkhi yang masih kental di masyarakat pada waktu itu. Beliau tidak membatasi perempuan muslimah yang ingin ikut serta dalam memperdalam ilmu-ilmu agama dan berkonsultasi kepada Nabi saw. 

Majelis yang diadakan Nabi saw pada waktu itu tidak terbatas hanya kepada laki-laki an sich. Banyak dari kalangan wanita yang ikut serta dalam majelis tersebut. Mereka turut mendengarkan hadits-hadits dari beliau. Tidak hanya di dalam majelis. Di situasi lain seperti perayaan ‘Idul Fitri mereka turut hadir dalam mendengarkan khutbah beliau. Disaat Nabi saw selesai berkhutbah beliau kemudian beranjak dari shaf laki-laki menuju shaf perempuan dan berkata kepada mereka, “ketahuilah, bahwa sesungguhnya majelis nabi adalah majelis umum”, yang berarti tidak dikhususkan untuk satu golongan saja. Suatu ketika datang seorang wanita yang “menuntut” nabi saw agar Ia mau membuat majelis sehari bagi wanita karena dilihatnya majelis nabi yang didominasi oleh kaum pria. Nabi saw kemudian menanggapi permintaan wanita tersebut[22]

Pada dasarnya para wanita arab pada saat itu sangat menginginkan perlakuan yang sama. Sehingga dengan adanya majelis nabi mereka tidak menyia-nyiakan hal tersebut untuk ikut bergabung dalam majelis beliau sebagaimana halnya kaum pria. 

Dijelaskan pula oleh Abu Zahwu bahwa kaum hawa pada saat itu sangat berkeinginan untuk mengetahui masalah agama. Mereka tidak malu bertanya kepada nabi tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan agama. Suatu ketika diceritakan bahwa ada seorang wanita yang datang kepada nabi kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah swt tidak malu untuk menjelaskan kebenaran”, setelah itu ia baru menyampaikan pertanyaannya. Ia berkata, “apakah wajib bagi seorang wanita mandi apabila ia bermimpi bersetubuh?”[23] Setelah menanyakan hal tersebut Rasulullah saw kemudian menjawab, “Ya, apabila ia ternyata melihat air mani (sperma).” Maka Ummu Salamah (istri Rasulullah saw) menutupi mukanya seraya berkata, “Sungguh kamu telah membuka cela kaum perempuan. Mimpi keluar manikah perempuan itu?” Maka Nabi saw menjawab, “Kalau tidak, lalu dengan apa si anak menyerupainya?”[24]

Dari beberapa kejadian tersebut, Aisyah r.a. kemudian memuji para wanita Anshar. Ia berkata, “Sesungguhnya malu tidak menjadi penghalang wanita Anshar untuk memahami ilmu agama”[25]

Adapun istri-istri nabi, menurut Abu Zahwu juga memiliki peran dalam pengajaran serta penyebaran hadits[26]. ‘Aisyah ra. salah satu istri nabi yang cerdas dan paham akan masalah agama turut memberikan andil yang cukup besar. Ia selalu bertanya dan berdiskusi dengan Rasulullah saw dan mendengarkan penjelasan nabi mengenai satu ayat dan menyimak penjelasan beliau sehingga ia tahu persis masalah-masalah agama khususnya masalah domestic. Oleh karena itu, jika sahabat berbeda pendapat megenai hukum sesuatu seperti masalah mandi wajib, haidh dan sebagainya, mereka akan menanyakannya kepada istri-istri nabi (ummahat al mu’minin) dan mengembalikan pendapatnya kepada hadits-hadits Rasulullah saw yang telah didengarnya. Dengan demikian selesailah perbedaan pendapat diantara mereka[27]


D. Kesimpulan dan Penutup 

Abu Zahwu merupakan salah seorang doctor di bidang hadits yang merupakan salah seorang pemikir islam kontemprer yang berusaha mempertahankan hadits nabi dari orang-orang yang ingin merusak citra hadits itu sendiri. Usaha tersebut dilakukannya dengan menulis sebuah kitab yakni al Hadits wa al Muhadditsun. Karya ini memuat disusun guna menyanggah anggapan-anggapan yang menyimpang mengenai hadits nabi. Kitab tersebut ditulis dengan analisisnya terhadap hadits serta perkembangannya mulai dari masa nabi hingga beliau menulis kitab tersebut. Diantara pembahasan kitab tersebut adalah mengenai larangan penulisan hadits di masa beliau, perintah pengkodifikasian hadits, peranan wanita dalam majelis ilmu serta makna sunnah menurut para muhadditsin dan fuqaha serta menurut beliau sendiri. 

Semoga dengan tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca semua. Meskipun disadari bahwa di dalam tulisan ini masih banyak tedapat kesalahan, kekhilafan serta kekurangan. Maka dengan ini penulis memohon maaf sebesar-besarnya. 


DAFTAR PUSTAKA 

- Al Shabuni, Muhammad Ali. Membantah Kebohongan Orientalis terhadap Poligami Rasulullah. terj. A. Sjinqithy Djamaluddin. 1994.Surabaya: Risalah Gusti 

- Juynboll, G.H.A. Kontroversi Hadits di Mesir 1890-1960. 1999. terj. Ilyas Hasan. Bandung: Mizan 

- ‘Itr, Nur al Din. Manhaj al Naqd fi ‘Ulum al Hadits. 1992. Damaskus: Dar al Fikr 

- Zahwu, Muhammad Muhammad Abu. al Hadits wa al Muhadditsun. 1984. Riyadh: al Mamlakah al ‘Arabiyah al Su’udiyah. 

- Sumbulah,Umi. Kritik Hadits; Pendekatan Historis Metodologis. 2008. Malang: UIN-Malang Press 

- Mukri, Barmawi. Kontekstualisasi Hadis Rasulullah. 2005. Yogyakarta: Ideal Press. 

- Qodir, Faqihuddin Abdul. Bergerak Menuju Keadilan. cet. I. 2006. Jakarta: Rahima 

- DVD Rom al Maktabah al Saymilah. Arsyif Multaqa Ahl al Hadits 5, Bab Baqiyat Kutub al Mushthalah. 

- DVD RoM al Maktabah al Syamilah. Imam Bukhari. Shahih al Bukhari. Bab Kaifa Yuqbadhu al ‘ilm. Juz I. 

- DVD RoM al Maktabah al Syamilah. Imam Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah. Bab Man Sanna Sunnatan Hasanatan au Sayyiatan. Juz I 

- www.amlalommah.net, diposting tanggal 29 April 2009 

- www.islamway.com, diposting tanggal 29 April 2009 

- www.Khairaummah.com, diposting tanggal 14 April 2009 

- www.rowyjambi.blogspot.com, diposting tanggal 14 April 2009 




[1] Nama lengkap dan tempat serta tanggal lahir beliau tidak diketahui secara pasti karena minimnya literature yang ,membahas mengenai beliau. 


[2] Lihat: www.islamway.com, diposting tanggal 29 April 2009. 


[3] Arsyif Multaqa Ahl al Hadits 5, Bab Baqiyat Kutub al Mushthalah, Juz I, hlm. 14583, dalam al Maktabah al Saymilah 


[4] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadits di Mesir 1890-1960, terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1999), hlm. 73-74 


[5] Lihat: www.amlalommah.net, diposting tanggal 29 April 2009 


[6] Kitab al Hadits wa al Muhadditsun (Kairo 1958) merupakan sebuah studi yang luas mengenai hadits. Kitab ini diterbitkan beberapa bulan setelah Adhwa’ karya Abu Rayyah. Lihat: G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadits…, hlm. 94 


[7] Nur al Din ‘Itr, Manhaj al Naqd fi ‘Ulum al Hadits, (Damaskus: Dar al Fikr, 1992), hlm. 36-74 


[8] Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa al Muhadditsun, (Riyadh: al Mamlakah al ‘Arabiyah al Su’udiyah, 1984), hlm. 120 


[9] Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm.120 


[10]Beberapa sahabat yang kemudian menjadi pencatat wahyu (baca: sekertaris) Nabi antara lain Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab. Dan setelah fath al Makkah, kemudian Mu’awiyah bin Abi Sufyan masuk islam dan menjadi salah satu personil sekertaris nabi. Dari hal tersebut, kemudian Abu Zahwu berkesimpulan bahwa al Qur’an telah tertulis seluruhnya ketika Rasulullah saw masih hidup yang tersebar di batang pohon, tulang-belulang, batu. Tugas tersebut dilakoni oleh mereka setiap diturunkannya ayat dan lalu Nabi menyuruh mereka mencatatnya dengan memberitahukan bahwa ayat tersebut ditempatkan disurah ini. Hal ini berjalan selama 30 tahun (menurut sebuah pendapat) mulai dari hari pertama diutusnya nabi hingga beliau wafat. Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm.120-122 


[11] Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm. 123 


[12] Lihat: G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadits…, hlm. 73-74; lihat juga: Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm. 122 


[13] Lihat: G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadits…, hlm. 74 


[14] Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…,hlm. 123-234; Lihat juga: G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadits…, hlm. 74-75 


[15] Umi Sumbulah, Kritik Hadits; Pendekatan Historis Metodologis, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), hlm. 12; Lihat pula Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits w…, hlm. 127-128 


[16] Barmawi Mukri, Kontekstualisasi Hadis Rasulullah, (Yogyakarta: Ideal Press, 2005), hlm. 132. Lihat juga: Imam Bukhari, Shahih al Bukhari, Bab Kaifa Yuqbadhu al ‘ilm, Juz I. hlm. 186 dalam DVD RoM al Maktabah al Syamilah, dan Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…,hlm. 128 


[17] www.rowyjambi.blogspot.com, diposting tanggal 14 April 2009 


[18] Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm. 8 


[19] Imam Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Bab Man Sanna Sunnatan Hasanatan au Sayyiatan, Juz I, hlm. 245 dalam DVD RoM al Maktabah al Syamilah 


[20] Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm. 9-11 


[21] Lihat: www.Khairaummah.com, diposting tanggal 14 April 2009, Lihat pula: Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm. 11 


[22] Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm. 55 


[23] Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm. 55 


[24] Wanita tersebut adalah Ummu Sulaim istri Abu Thalhah ra. dan yang dimaksud Nabi saw, bahwa janin itu terdiri dari “air” pria dan “air” perempuan. Lihat: Muhammad Ali al Shabuni, Membantah Kebohongan Orientalis terhadap Poligami Rasulullah, terj. A. Sjinqithy Djamaluddin, (Surabaya: Risalah Gusti, 1994), hlm. 3 


[25] Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm. 55; lihat pula: Muhammad Ali al Shabuni, Membantah Kebohongan…,hlm. 4 


[26] Menurut Ruth Roded di dalam buku “Kembang Peradaban” terbitan 1995 ia mengatakan, tercatat hampir seribu dari sahabat perempuan yang menjadi pengajar atau tepatnya perawi hadis, seperti ‘Aisyah dan Asma’ binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar bin al Khattab, Khansa bin Khidam, Ummu Salamah, Ummu Ayyub, Ummu Habibah ra, dan banyak lagi lainnya. Sebagaimana dikutip oleh Faqihuddin Abdul Qodir dalam Bergerak Menuju Keadilan, cet. I, (Jakarta: Rahima, 2006), hlm. 28 


[27] Muhammad Muhammad Abu Zahwu, al Hadits wa…, hlm. 56

0 komentar:

Posting Komentar